Tampilkan postingan dengan label Jurnal Ilmiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnal Ilmiah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Januari 2016

Begonia Baru Ungkap Kekayaan Tersembunyi Kawasan Karst Sumatera

Temuan dua jenis begonia di Taman Nasional Gunung Leuser wilayah Sumatera Utara memberi petunjuk tentang kekayaan kawasan karst yang masih tersembunyi.
Dua begonia itu memiliki karakteristik yang khas pada daunnya. Keduanya juga merupakan spesies endemik kawasan karst Leuser, patut dilestarikan sekaligus dieksplorasi manfaatnya.
Wisnu H Ardi dari Pusat Konservasi Tumbuhan (PKT) Kebun Raya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan dua jenis begonia itu lewat kerjasama dengan Royal Botanic Gardens Edinbrugh, Inggris.
Jenis begonia pertama yang ditemukan dinamai Begonia olivacea. "Daunnya yang kusam tetapi di antara tulang daunnya ungu," ungkap Wisnu.
B livacea merupakan bunga yang mungil. Tangkai daunnya berambut jarang. B olivacea memiliki kekerabatan dengan B nurii dari Klantan dan B droopiae dari Sumatera Barat.
Jenis kedua dinamai B simolapensis. "Kalau jenis ini daunnya mengkilap," kata Wisnu saat dihubungi Kompas.com, Jumat (14/1/2015).
Tangkai daun B simolapensis panjang dan berambut lebat. Jenis tersebut tumbuh pada ketinggian 250 - 600 meter di atas permukaan laut.
Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), dua jenis begonia yang ditemukan punya risiko rendah. Wisnu mengatakan, dua jenis begonia itu bisa dimanfaatkan sebagai tanaman hias.
Begonia yang hidup di kawasan karst secara umum punya karakteristik yang unik, yaitu daun yang lebih tebal dan kemampuan melakukan dormansi pada musim kering.
Wisnu menuturkan, B olivacea dan B simolapensis merupakan tanaman yang evergreen. Namun, pada musim kering, pertumbuhan berlangsung lebih lambat. Penemuan ini dipublikasikan di jurnal European Taxonomy.


Referensi :

Selasa, 24 Februari 2015

Serangan Jantung dan Stroke Lebih Sering Terjadi Pada Pekerja Shift


tumeric_0706

Suatu Penelitian menunjukkan bahwa bekerja pada shift malam atau jadwal non-tradisional lainnya dapat meningkatkan resiko serangan jantung dan stroke.
Penelitian sebelumnya telah menghubungkan antara shift malam dengan faktor resiko penyakit jantung dan stroke termasuk tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, dan diabetes. Saat ini, peneliti yang mengumpulkan 34 penelitian yang melibatkan lebih dari 2 juta orang menemukan bahwa pekerja shift juga lebih mungkin untuk mengalami serangan jantung atau stroke.
Penelitian baru ini “memberikan pijakan yang kuat untuk menyatakan bahwa pekerjaan dengan shift berhubungan dengan peningkatan resiko serangan jantung dan stroke. Hubungan tersebut mungkin bersifat kausal, namun hal tersebut sulit diutarakan apabila hanya didasarkan pada penelitian observasional”, kata peneliti penelitian ini, Daniel G. Hackam, MD, PhD. Beliau merupakan asisten profesor University of Western Ontario, Canada.
Penelitian ini dipublikasikan secara online pada jurnal BMJ.

Minyak Ikan Tidak Mengurangi Resiko Penyakit Jantung Pada Pasien Diabetes



Apabila anda memiliki diabetes atau prediabetes, suplemen minyak ikan mungkin tidak membantu sama sekali dalam mengurangi resiko penyakit jantung.
Hal tersebut merupakan kesimpulan dari sebuah penelitian besar yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine.
Suplemen minyak ikan mengandung asam lemak omega-3. The American Heart Association mengatakan bahwa omega 3 telah dibuktikan memberikan menfaat bagi jantung bagi orang-orang dengan resiko penyakit jantung yang tinggi.

Ilmuwan Membentuk Sel-sel Saraf Baru – Langsung di Dalam Otak

Bidang terapi sel, yang bertujuan membentuk sel-sel baru dalam tubuh untuk menyembuhkan penyakit, telah mencapai langkah penting dalam pengembangan menuju pengobatan baru. Laporan terbaru dari para peneliti di Universitas Lund, Swedia, menunjukkan cara yang mungkin untuk memprogram-ulang sel-sel lain menjadi sel-sel saraf, secara langsung di dalam otak.
Dua tahun yang lalu, para peneliti Universitas Lund merupakan yang pertama di dunia yang berhasil memprogram-ulang sel kulit manusia, yang dikenal sebagai fibroblast, menjadi sel saraf penghasil dopamin – tanpa harus mengambil jalan memutar melalui tahap sel punca. Kelompok riset ini kini melangkah jauh ke depan dan menunjukkan cara memprogram-ulang sel kulit maupun sel-sel pendukung menjadi sel-sel saraf, secara langsung pada tempatnya di dalam otak.

Kapas Penyeka Terbukti Bermasalah bagi Kesehatan Telinga



“Di masa lalu, banyak ahli otolaringologi bertanya apakah pembedahan memang diperlukan untuk merawat gendang telinga yang sobek. Hasil dari studi ini menunjukkan kalau 97 persen kasus sembuh dengan sendirinya dalam dua bulan, membuktikan kalau sebagian besar kasus tidak membutuhkan pembedahan,” kata   Ilaaf Darrat, M.D., seorang ahli otolaringologi dari Rumah Sakit Henry Ford dan pengarang studi ini.
 Studi ini disajikan tanggal 29 April 2011 dalam  Combined Otolaryngology Spring Meeting Chicago.
Lebih dari separuh pasien terlihat dalam klinik otolaringologi (THT), tidak melihat keluhan utamanya, mengakui memakai kapas penyeka untuk membersihkan telinga mereka. Namun jika kapas telinga didorong terlalu dalam di saluran telinga, ia dapat menyebabkan kerusakan serius, termasuk sobeknya gendang telinga, yang juga disebut sebagai perforasi selaput timpanik (tympanic membrane perforations – TMP).

Ribuan Spesies Ditemukan dalam Lingkungan Ekstrim Danau di Kedalaman Es Antartika



Danau Vostok, terpendam di bawah gletser di Antartika, sebuah kawasan yang begitu gelap, dalam dan dingin, yang dijadikan oleh para ilmuwan sebagai model untuk kondisi ekstrim di planet lain, tempat yang diduga tak mungkin ditempati organisme apapun untuk hidup. Namun, penelitian dari Dr. Scott Rogers, seorang profesor ilmu biologi di Bowling Green State University, bersama rekan-rekannya, secara mengejutkan telah menyingkap berbagai bentuk kehidupan yang bersemayam dan bereproduksi dalam lingkungan yang paling ekstrim tersebut. Sebuah makalah yang dipublikasikan dalam jurnal PLoS ONE (Public Library of Science) edisi 26 Juni, merinci ribuan spesies yang teridentifikasi melalui pengurutan DNA dan RNA.
“Batas-batas pada apa yang layak huni dan apa yang tidak berubah,” umbar Rogers. Hasil studi kini menjadi artikel keempat yang dipublikasikan tim riset dalam menginvestigasi Danau Vostok. Riset yang memakan biaya lebih dari 250 ribu dolar ini terwujud berkat dukungan beberapa pendanaan: dua hibah di antaranya berasal dari National Science Foundation, satu dari U.S. Department of Agriculture dan satu lagi dari Komite Riset Fakultas Bowling Green State University.

Selasa, 10 Februari 2015

Gen "Mabuk" Membuat Anda Cepat Mabuk


 Red-Wine-on-Summer-Day

Gen mabuk yaitu gen yang mengontrol seberapa cepat minuman keras/beralkohol menuju ke kepala anda telah ditemukan oleh para ilmuwan.
 http://www.onthego.to/drink/go-readers-wine-picks

Orang-orang yang memiliki gen tersebut cenderung lebih cepat mabuk tapi karena mereka tidak gampang menerima alkohol maka tidak cenderung menjadi alkoholik.

Gen mabuk tersebut yang bernama CYP2E1 menyediakan kode instruksi-instruksi untuk membuat enzim yang menghentikan kerja alkohol.

Para ilmuwan menemukan bahwa 10 hingga 20 persen dari populasi memiliki versi khusus gen yang menyebabkan mereka lebih gampang mabuk.

Beberapa tegukkan minuman keras pertama pada waktu kumpul bareng dengan teman membuat orang-orang tersebut merasa lebih mabuk ketimbang teman-teman mereka. Oleh karena itu mereka cenderung berhenti minum lebih dulu.

Obat-obatan yang mempertinggi pengaruh CYP2E1 di masa yang akan datang bisa digunakan untuk membuat orang sensitif terhadap alkohol sebelum acara minum atau bahkan membuat mereka pulih dari mabuk ketika minum terlalu banyak, kata para peneliti.

Para peneliti di A.S. menginvestigasi genetika 237 para saudara kandung mahasiswa yang memiliki satu orang tua dengan ketergantungan alkohol tapi mereka sendiri tidak mengalami ketergantungan tersebut.

Mereka memfokuskan pada bagian ujung kromosom 10 yang merupakan tempat gen CYP2E1 berada.

Respon terhadap minuman beralkohol para partisipan terhubung dengan komposisi genetik mereka.

Para mahasiswa diberikan campuran alkohol dan minuman ringan yang setara dengan sekitar tiga minuman beralkohol pada umumnya.

Pada jarak waktu atau interval teratur mereka kemudian ditanya apakah mereka merasa mabuk, sadar/tidak mabuk, mengantuk atau bangun.

Profesor Kirk Wilhelmsen yang merupakan senior penggagas studi tersebut dari Universitas North Carolina seperti yang dilansir oleh Telegraph mengatakan: "Kami menemukan gen yang memberikan perlindungan dari alkoholisme dan yang penting ialah pengaruhnya sangat kuat. Namun, alkoholisme adalah penyakit yang sangat kompleks dan banyak alasan rumit mengapa orang meminum minuman keras. Gen ini mungkin hanya salah satu dari alasan-alasan tersebut."

Pengaruh CYP2E1 terhadap keadaan tak mabuk mungkin dikarenakan faktanya bahwa gen tersebut tidak aktif dalam hati tapi di otak.

Gen tersebut menghasilkan molekul-molekul destruktif yang disebut radikal bebas yang dapat merusak struktur-struktur yang sensitif seperti sel-sel otak.

"Ternyata versi khusus CYP2E1 membuat orang lebih sensitif terhadap alkohol, dan saat ini kami sedang mempelajari apakah hal tersebut dikarenakan gen itu menghasilkan lebih banyak radikal-radikal bebas ini," tutur Prof Wilhelmsen.

Penemuan tersebut dipublikasikan di jurnal Alcoholism: Clinical and Experimental Research.

Dalam studi lainnya yang dipubilikasikan di jurnal yang sama, para ilmuwan menemukan bukti bahwa kemampuan otak untuk tercandu dengan alkohol tergantung pada struktur atau komposisi genetik.

Penelitian yang dilakukan terhadap tikus menunjukkan perubahan yang berhubungan dengan adiksi pada hewan tidak mempunyai kunci gen "rasa nikmat".

"Penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh konsumsi alkohol kronis pada kimia otak sangat dipengaruhi oleh komposisi genetik yang sudah ada pada seseorang," kata pimpinan peneliti Panayotis Thanos dari the Brookhaven National Laboratory di New York.

Rujukan :
http://sainspop.blogspot.com/2010/10/gen-mabuk-membuat-anda-cepat-mabuk.html  

Eceng Gondok

 


Tanaman mengambang di kolam adalah tambahan paling disukai karena mereka menyediakan penutup permukaan, menaungi air kolam dan menyediakan tempat bagi ikan untuk kabur dari panas matahari.
Eceng Gondok berasal dari Brazil dan entah kapan sampai ke Indonesia. Tanaman ini sebenarnya tanaman air terburuk karena tumbuh begitu cepat sehingga memblokir aliran air dan merusak pelayaran.

Bentuk awal mahkluk hidup penghasil oksigen

Ditemukannya bukti pelapukan batu tua akibat oksidasi di India
Ditemukannya bukti pelapukan batu tua akibat oksidasi di India
Ahli geologi dari Trinity College Dublin, Irlandia, menemukan bahwa bentuk kehidupan penghasil oksigen pertama di  Bumi muncul sekitar 3 milyar tahun yang lalu. Ini berarti 60 juta tahun lebih awal dari yang selama ini diperkirakan oleh para ahli dan tertulis di buku buku sejarah evolusi. Bentuk kehidupan ini bertanggungjawab atas terbentuknya oksigen yang melimpah yang kini ada di atmosfer kita. Oksigen yang melimpah ini di kemudian hari berperan penting dalam berkembangnya mahkluk hidup yang lebih kompleks seperti manusia.

 
Diberdayakan oleh Blogger.