Rabu, 11 Maret 2015

SEL

      
 Sel adalah unit dasar suatu organisme. Pada organisme multisel, sel tidak semata-mata mengelompok, tetapi dihubungkan dan dikoordinasikan dalam satu keseluruhan yang harmonis. Ukuran, bentuk, struktur, dan fungsi sel barmacam-macam. Ada yang berukuran dalam mikron hingga sentimeter. Misalnya, pada serabut tumbuhan tertentu. Ada sel yang memiliki organisasi internal sederhana, tetapi ada juga yang rumit. Ada sel yang mempunyai banyak fungsi, tetapi ada juga sel yang mempunyai fungsi khusus.

Sejarah Sel

            Sel berasal dari istilah cellula yang pertama kali digunakan oleh Robert Hooke pada tahun 1665. Hooke memberikan istilah ini untuk ruang kecil yang dibatasi oleh dinding, yang dilihatnya pada sel gabus. Selanjutnya, ia mengamati jaringan tumbuhan yang lain dan melihat bahwa sel-selnya berisi cairan.
            Senyawa di dalam sel, yaitu protoplasma, ditemukan bebrapa ssat sesudahnya. Pada tahun 1880, hanstein menggunakan istilah protoplas untuk menyebut unit protoplasma yang terdapat di dalam suatu sel. Ia juga mengusulkan istilah protoplas untuk menggantikan istilah sel, tetapi tidak dapat diterima. Pada tumbuhan, yang disebut sel meliputi protoplas dan dinding selnya. Dulu, dinding sel dianggap sebagai eksresi tidak hidup dari suatu sel dan protoplasma, khususnya pada sel muda, merupakan suatu kesatuan organik yang bersama-sama membentuk unit hayati tunggal.
            Pada tahun 1831, Robert brown menemukan inti di dalam sel epidermis tumbuhan anggrek. Pada tahun 1846, Hugo Von Mohl memberdakan antara protoplasma dan cairan sel. Pada tahun 1862, Kolliker memperkenalkan istilah cytoplasma (baca:sitoplasma). Dari akhir abad ke-19 dan selama abad ke-20, penelitian tentang sel berkembang dengan cepat, bahkan sekarang sitologi sudah berkembang menjadi cabang ilmu sendiri.

Struktur Sel
            Berdasarkan orgnisasi internalnya, sel dapat dibedakan menjadi sel prokariot dan sel eukariot. Disebut prokariot jika inti selnya tidak dibatasi selaput inti sel (tidak mempunyai membran inti), Misalnya ganggang biru (Cyanophyta) dan bakteri. Disebut eukariot jika sudah mempunyai membran inti (selaput inti), misalnya sel-sel hewan dan tumbuhan.

            Sel biasanya mempunyai satu inti, tetapi sel dewasa bisa mengalami perubahan. Miaslnya sel tapis pada floem, dalam perkembangannya inti menghilang. Sebaliknya, ada juga sel yang mempunyai lebih dari satu inti, misalnya pada latisifer. Sel multi-inti ini biasa terdapat dalam seluruh organisme, misalnya pada beberapa jamur dan ganggang. Namun, sel, multi-inti ada juga yang merupakan tahap sementara dalam perkembangan suatu jaringan, misalnya endosperm. Pendapat yang banyak diterima adalah setiap inti bersama-sama dengan protoplasma di sekelilingnya membentuk sel tanpa dinding, sehingga seluruh multi-inti merupakan kelompok unit protoplasma yang membentuk suatu struktur yang disebut coenocyte.




Protoplasma berisi komponen berselaput dan tak berselaput. Apabila difiksasi dengan baik, penampang melintang selaput (membran) tampak di bawah mikroskop elektron sebagai dua garis gelap dengan ketebalan msing-masing 2,5 nm dan dipisahkan oleh garis terang dengan ketebalan 3,5 nm. Struktur membran menurut model Danielli-Davidson (1935) terdiri atas lapisan lemak bimolekul yang setiap sisinya ditutupi lapisan protein. Sekarang ini, teori model mozaik cairan (Singer-Nicolson) lebih banyak diterima.
Bentuk dasar sel adalah polihedral (14 sisi). Pada jaringan tumbuhan juga ditemukan sel dengan sisi 12,13,15,16 atau lebih. Menurut Matzke, hampir seluruh sel memiliki 14 sisi dinding sel, tetapi ditemukan juga yang tetragon dan hexagon. Bentuk dasar sel meristem apikal adalah 14 sisi polihedral. Pada meristem apikal Anacharis densa, Matzke (1956) menemukan bahwa selama interfase, rata-rata jumlah sisi polihedral meningkat dari 13,85 menjadi 12,61.
Sebagai hasil bertambahnya volume sel selama pertumbuhan, jumlah permukaan dinding meningkat lebih dari 14 (jumlah sisi selnya lebih dari 14). 



Hal ini menyebabkan berkembangnya ruang antarsel karena tidak semua sisi sel dapat berkembang dengan dua cara sebagai berikut.
  1. Perkembangan secara skizogen, yaitu dengan berpisah dari dinding sel tetangganya, seperti perkembangan duktus resin pada pinus.
  2. Perkembangan secara lisigen, yaitu terjadi penguraian sel sehingga terbentuk ruangan seperti rongga minyak pada kulit buah Citrus (Jeruk)
  3. Perkembangan secara skizolisigen, yaitu perpaduan antara perkembangan secara skizogen dan lisigen. Ruang antar sel dalam protoxilem sering kali dibentuk dengan cara ini. Ruang antarsel dapat menjadi tidak beraturan dan beragam bentuknya, seperti pada kebanyakan tumbuhan air, daun pisang, dan tumbuhan lain.


Sel muda di daerah pertumbuhan relatif kecil. Setelah dewasa, ukuran dan bentuknya berkembang sesuai dengan fungsi fisiologisnya. Sekelompok sel tumbuh bersama secara seragam. Sel dalam kelompok mulai berbeda posisi serta bentuknya, tetapi hubungan antar dinding sel yang satu dan dinding sel tetangganya tidak berubah dan tidak dibentuk daerah baruuntuk kontak dinding sel. Tipe pertumbuhan seperti ini disebut pertumbuhan simplastisis. Dapat juga terbentuk celah bebas di sepanjang dinding sel. Tipe pertumbuhan seperti ini disebut pertumbuhan intrusif, yang secara sementara kehilangan lamela tengan antarsel di daerah pertumbuhan. Pertumbuhan intrusif terjadi pada serabut yang memanjang. Dalam cabang beberapa sklereida, dalam latisfer tak artikulasi, dan dalam sel anak dari permulaan bentuk kambium tidak bertingkat yang memebelah ke arah antiklin.
Komponen utama sel tumbuhan adalah dinding sel, sitoplasma dan inti. Di dalam sitoplasma terdapat retikulum endoplasma, badan golgi, mitokondria, plastida, badan mikro, ribosom, sferosom, mikrotubula, vakuola, dan benda ergastis.

Ditulis Oleh : Artikel ilmiah // 14.03
Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar

 
Diberdayakan oleh Blogger.